Back

ⓘ Sahadat buhun



                                     

ⓘ Sahadat buhun

Sahadat buhun atawa sadat buhun nyaéta istilah pikeun nyebut kalimah sakral anu diyakinan minangka bagian tina tartib hirup budaya Sunda wiwitan. Tapi aya ogé anu nyebutna minangka sahadat Baduy, lantaran sahadat ieu réa dipaké ku urang Baduy nu ngagem ajaran Sunda wiwitan.

Para Sastrawan Sunda Ngagolongkeun Sahadat ieu kajero kelompok Ajimantra atawa puisi mantra, yang berasal dari dua daerah, yakni Ajimantra Baduy Banten dan Ajimantra Priangan. Pengertian Sahadat Buhun berbéda dengan maksud SahadatSyahadat yang dimaksud dalam agaman Islam. Didalam kamus bahasa Indonésia Sahadat Syahadat berarti 1 pengakuan kesaksian 2 pengakuan atau kesaksian iman-islam sebagai rukun yang pertama.

Didalam Wikipedia edisi Bahasa Sunda disebutkan, bahwa Sahadat mangrupa pernyataan kayakinan Islam. Dina basa Arab, hartina nyaksénan atawa méré kasaksian. Sahadat mangrupa pernyataan kapercayaan kana tunggalna Gusti Allah dina basa Arab sartayén Nabi Muhammad minangka utusan pangahirna. Perbédaan antara Sahadat di dalam agama Islam dengan Sahadat Buhun diakui pula oleh penganut agama Sunda Wiwitan.Sepertiketerangan Ayah Mursid,tokoh masyarakat Cibéo:

Sahadat menurut ajaran Sunda Wiwitan diartikan sebagai rangkaian kalimat berisi do’ado’a atau jampe-jampe yang disampaikan kepada Sang Pencipta Alam sesuai dengan kebutuhan, kegiatan atau masalah yang dihadapi, dan diucapkan tidak sembarangan adakramanya”.

Dari pendifinisian yang diberikan Ayah Mursid diatas, tentunya memiliki konsekwensi, bahwa jampe-jampe yang memenuhi syarat sebagaimana sahadat dapat dikatagorikan sebagai sahadat dalam pengertian Jampe,bukan dalam pemahaman sahadatdalam pengertian islam. demikian pula dari syariatnya, menurut Ayah Mursid, bahwa: Dalam keyakinan Sunda Wiwitan kami tidak kebagian perintah shalat seperti saudara-saudara sebab Wiwitan Adam tugasnya memelihara keseimbangan alam, tidak memiliki kitab suci karena ajarannya bersatu dengan alam, maka agama Sunda Wiwitan hanya diperuntukan bagi masyarakat Baduy”. Krama dari pengucapan sahadat dimaksud dilakukan sesuai waktu dan kegunaannya. Misalnya jika hendak menanam Padi, agar terhindar dari hama dan dapat menghasilkan padi yang lebih baik,maka méré ka membacakan sahadat Sri. Karena yang diyakini menjaga dan mengurus pertanianadalah Dewi Sri, maka mereka menitipkan kepada Dewi Sri.Sedangkan untuk perkawinan membacakan sahadat khusus untuk perkawinan.

Istilah dalam Sahadat Mencari naskah atau keterangan asli tentang Sahadat diatas dari sumber asli Baduy atau para penganut Sunda Wiwitan lainnya agak sulit ditemukan, bahkan menurut Ekajat 2005,:" Kesulitan menemukan keterangan tentang Sunda Wiwitan akibat tertutupnya para penganut agama dimaksud. Namunmenurut alasan dari Ayah Mursid,:" harus tepat penggunaannya dan diucapkan tidak sembarangan, karena ada kramanya”. Sangat masuk akal jika krama peng gunaan sahadat ini ngawengku pengetahuan orang luar untuk mengetahui sahadat ini. Dalam kenyataannya banyak teks-teks sahadat dengan judul yang sama digunakan oleh masyarakat Baduy, namun berbéda dengan teks yang digunakan Urang Baduy.Perbédaanbahasa didalam sahadat ini sudah banyak diulas oleh para sastrawan Sunda, seperti Wahyu Wibisana 2000 bahkan mengkatagorikan sahadatkedalam dua wilayah, sesuai dengan asalnya, yakni ajimantra Baduy dan Banten, serta ajimantra Priangan.

                                     

1. Ajimantra ti Baduy

Ajimantra dari daerah Baduy dan Banten, sebagai berikut: Pohaci Sanghiyang Asri,Ulah gedérulah reuwas,Ja kami rek nitipkan,Titip ka nu boga bumi,Tema ka nu boga désa. Pohaci Sanghiyang Asri,Jangan kaget,kami hendak menitipkan,titip kepada pemilik bumi,juga kepada yang mpunya désa. Sedangkan contoh dari daerah Priangan, sebagai berikut: Asyhadu syahadat Sunda, zama alloh ngan sorangan. Kaduana Gusti Rasul, katilu Nabi Muhammad,Kaopatumat Muhammad. Nu cicingdi bumi angaricing. Nu Calik dina alam keueung. Ngacacang di alam mokaha. Salamet umat Muhammad. Asyhadu Syahadat Sunda, Zama allah hanya satu. Keduanya para Rasul. Ketiga Nabi Muhammad. Keempat umat Muhammad. Yang tinggal di Bumi yang ramai. Yang duduk di alam takut. Menjelajah alam nafsu. Selamat umat Muhammad.

Perbédaan dari Sahadat tersebutsangat lugas, siapapun akan mengetahui mana yang lebih buhun. Hal ini bisa terjadi akibat pengaruh perkembangan jaman dan penggunaan istilah- istilahyang merupakan eufimisme dari yang disebutkan dalam sahadat tersebut, bahkan orang Baduy menggunakan hal yang sama untuk menerangkannya kepada orang lain, sekalipun dalam bacaan bathinnya masih tetep menggunakan bahasa awalnya.

Penggunaan bahasa,seperti untukmenyebutkan nama Batara Cikal digantikan dengan sebutan Adam Tunggal, atau menyisipkan kata Slam maksudnya Islam kedalam istilah Sunda Wiwitan.Mungkinpulaciri khas dari keyakinan Sunda Wiwitan yang di katagorikan Sinkretis, sangat terbuka untuk menerima pengaruh agama manapun secara terbuka, bahkanada yang menafsirkan sebagai adaptifnya keyakinan urang Sunda baheula. Untuk memperkuat dan menggambarkan penafsiran dimaksud,dapat disimak keterangan Ayah Mursid, sebagai berikut: Agama nu di agem ku masyarakatBaduy, ngarana Agama Slam Sunda kabagéan parentah shalat seperti dulur- dulur sabab wiwitanAdam tugasna memelihara kasaimbangan ieu alam, teu mibanda kitabna da ajaran neurap jeung alam. Makana agama Slam Sunda Wiwitan ngan ukur keur Baduy.

Urang Baduy saat ini nampaknya menggunakan bahasa-bahasa yang digunakan masyarakat Sunda beragama Islam, tanpa merobah substansi dari keyakinannya sendiri. Mungkin pula untuk menghindari benturan yang tidak ada manfaatnya, karena méré ka merasa yakin, bahwa tugasnya di bumi ini adalahuntuk menjaga keseimbangan harmoni alam.Urang Baduy menyadari adanya désakan yang timbul dari perobahan jaman. Kesadaran demikian diakui oleh Ayah Mursid:" Kami ti jauhna keneh geus waspada jeung sadar, yen zaman pasti rubah, tantangan keur masyarakat adat mingkin dieu mingkin beurat, ti berbagai sudutperkampungan perbatasan geus teu katadah ku kamajuan hirup, tapi kami tetep teguh patuh keurngalaksanakeun amanat wiwitan jeung kami tetep yakin Baduy tetep ayem tentrem nu penting ulah ngaganggu jeung diganggu jeung ulah ngarugikeun komo deuidirugikeun. Kami siap kerja sama jeung sasaha oge wae tapi nu aya mangpaatna kana kahirupan balarea, kami mah patuh kana hukum jeung kahayang alam nu diciptakeun kunu maha kawasa. (Sejak awal kami sudah waspada dan menyadari bahwa zaman pasti berubah, tantangan buat masyarakat adat semakin hari semakin berat, dari berbagai perkampungan perbatasan sudahtidak terbendung lagi ada kemajuan pola dan gaya hidup tetapi kami tetap teguh patuh untuk melaksanakan amanat wiwitan dan kami meyakini bahwabaduy aman tentrem, yang penting jangan mengganggu ataudiganggu dan jangan merugikan apalagi dirugikan. Kami siap bekerja sama dengan siapa saja, tetapi yang ada manfaatnya bagikeselamatan hidup semua manusia, kami tetap akan patuh mengikuti hukum dan kehendak alam yang sudah diciptakan oleh Yang maha Kuasa”.

Penggunaan istilah-istilahseperti asyhadu, allahuma, bismillah didalam Sahadat buhun sering pula kita temukan. Mungkin saja ini terjadi sebagai adaptasi bahasa atau digunakan oleh parapecinta budaya Sunda yang sudahberagama di luar Sunda Wiwitan namun masih merasa nyaman menggunakan Sahadat Buhun.

                                     

2. Jenis sahadat buhun

Sahadat dari daerah Baduy yang pokok tidak kurang dari 20. Sahadat-sahadatdimaksud, antara lainsebagai berikut:

  • Sahadat mesir ;
  • Sahadat Rahayu ;
  • Sahadat Sri ;
  • Sahadat Santen ;
  • Sahadat Imam Mahdi ;
  • Sahadat Banten ;
  • Sahadat Suson ;
  • Shadat Umur ;
  • Sahadat Bawa ;
  • Sahadat Sunda ;
  • Sahadat Pernikahan ;
  • Sahadat Bumi Alam.
  • Sahadat Bali ;
  • Sahadat Rasa ;
  • Sahadat Pamuka alam ;
  • Sahadat Iman ;

Sebagai mana uraian diatas, penggunaan sahadat Baduy disesuaikan dengan maksud dan keperluannya. Dalam upacara perkawinan, pembacaan sahadat dibacakan oleh Puun dari kedua belah pihak sejak acara seserahan atau seserenan.Jenis sahadat yang digunakan adalah

Sahadat Wiwitan ; Sahadat

Tunggal ; Sahadat Samping ; Sahadat Batin dan sebagai pelengkap dibacakan pula Sahadat Kangjeng Nabi Muhammad. Perkawinan untuk masyarakat Baduy tidak ada perceraian. Dalam istilah sekarangcerai karena mati.

Salah satu cara untuk memperkuat keyakinan tersebut, sarta upaya agar perkawinan langgeng maka dibacakan Sahadat Bathin. Selainsahadatdari Masyarakat Baduy, diPrianganterdapat ju ga beberapa jenis. Menurut Wahyu Wibisana 2010, antara lain sebagai berikut:

  • Sahadat jawa ;
  • Sahadat Islam ;
  • Sahadat Sunda ;
  • Sahadat Sari ;
  • Sahadat Ganda.
  • Sahadat Mustakarayun ;
  • Sahadat Adam ;
  • Sahadat Sayang ;
  • Sahadat Bawa ; 5.Sahadat Taraju ;
  • Sahadat Hayun ; 11.Sahadat Siluman ;
  • Sahadat Barjah ;

Teks Sahadat Buhun Sahadat menurut ajaranorang Baduy diartikan sebagai rang- kaian kalimat berisi doa– doaatau jampe-jampe yang disampaikan kepada Sang Pencipta Alam sesuai dengan kebutuhan, kegiatan atau masalah yang dihadapi, diucapkantidak sembarangan dan ada kramanya. Jika mencermati keterangan diatas tentu sangat sulit menemukan teks Sahadat Buhun yang asli, mengingat tabu di ucapkan sembarangan. Dalam réalitas sosial, sahadat Buhun dengan judul teks sebagaimana yang ada di kalangan masyarakat Baduy ataupenganut Sunda Wiwitan di luar Baduy banyak ditemukan dikalangan masyarakat maupun sastrawan. Namun telah mengalami trans-formasi makna dan bahasanya, dengan menyelipkan bahasa-bahasa ageman baru. Padahal, untuk kepentingan Sastra atau Ilmiah, tak perlu ada pengkoreksian ataupenyesuaianbahasa, karena dapat merobah originalitas dari kandungan dan maksud Sahadat Buhun itu sendiri. Suatu contoh yang dikemukakan oleh Abdul Rojak didalam bukunya:Teologi KebatinanSunda’2005 menjelaskan, bahwa:" Orang Kanekes Baduy Dalam Cikeusik, Cikertawana dan Cibeojuga mengenal istilah syahadat, yang disebut Syahadat Sunda”. Sahadat tersebut tentunya dengan mencantumkan kalimat dari bahasa keyakinan yang telahdisesuaikan. Dalam kesempatan lainnya, Asep Kurnia 2010, menjelaskan sanggahan secara halus dari orang Baduy mengenai teks Sahadat yang bérédar diluarBaduy. Dalam hal ini ada benarnya, bahwa sahadat yang bérédar di luar masyarakat Baduy Kanekes bukanlah SahadatBuhun atau Sahadat Baduy, melaikan Sahadat Buhun yang telah mengalami transformasi daribahasa ajaran yang dipakai para pemeluk ajaranSunda Wiwitan di luar Baduy atau para Sastrawan. Sedangkan masyarakat Baduy dan penganutSunda Wiwitan masih menggunakan bahasa aslinya, bahasa bathin yang memiliki makna khusus dalam hubungannyadengan Yang Maha Keresa, TuhanYang Esa dan alam di mana méré kahidup. Teks-teks Sahadat dimaksud, sebagaimana dimuat dalamSastra Lagu: Mencari Larak dan Lirik, Wahyu Wibasana, Dalam Lima AbadSastra Sunda - 2000, sebagai berikut: Sahadat Sunda Asyhadu syahadat Sunda, zama alloh ngan sorangan. Kaduana Gusti Rasul, katilu Nabi Muhammad,Kaopatumat Muhammad. Nu cicingdi bumi anggaricing. Nu Calik dina alam keueung. Ngacacang di alam mokaha. Salamet umat Muhammad. Asyhadu Syahadat Sunda, ZamanAllah hanya satu. Keduanyapara Rasul. Ketiga Nabi Muhammad. Keempat umat Muhammad. Yang tinggal di Bumi yang ramai. Yang duduk di alam takut. Men-jelajah alam nafsu. Selamat umat Muhammad. Sadat Islam Sadat islam aya dua,/ Ngislamkeun badan kalawan nyawa,Dat hurip tanggal iman,Ngimankeunbadan saku- jur,Hudangsubuh banyu wulu/ Parentah kangjeng Gusti, Nabi Adam pang nyampurnakeun badan awaking.Sir suci,Sir Adam,Sir Muhammad,Muhammad Jakalalana Nu aya di saluhuring alam. Sadat Islam ada duamengislamkanbadan serta nyawa.Dat hurip tanggal imanmengimankanseluruh tubuh,/ bangun subuh dan berwudlu.Perintah dari Tuhan,NabiAdam sempurnakanlah badan kuSir Suci,Sir Adam,Sir Muhammad,Muhammad Jakalalana,Yangberada diatas alam. Sahadat Jawa Apa pengot surat Raden Angga Keling/Pangeran Angga Warulang/Ratu suluk ajitullah/ Pengersa saNusa Jawa/ PuputraneUlis Akin/Kajayak ngarurug Pajajaran/Tanggal ping opat welas/Nukila dikalimati sahadati/Isun weruh umat Allah dikang Selamat. Sahadat Bawa Ashadu Sahadat Bawa,/Iman jati lulungguhan pulo nyawa,/Roh nyawa intening hurip,/Hurip ieu keuna ku gingsir/Langgeng teu keuna ku owah,/Lailahaileloh Muhamad Rasulullah Sahadat Taraju Ashadu sahadat taraju/Idin imatan warohmatan/Walidatan, wasiratan,/Titikaptan minha yahu/Ya Allah, ya Rasulullah. Sahadat Sayang Ashadu sahadat sayang,/Kuriling ka bale suci/Cat mancet ka jagatmulya,/Tetesen ditetes ku Allah/Ya hu, ya Allah, ya Rasulullah. Sahadat sari Ashadu sahadat sari,/Gegedah wadah humenggang,/Ngebur- ngebur lain ratu,/Ngebyar- ngebarcahyaning pangeran,/ Payung tilu nungku-nungku,/ Payung emas lingga jati,/ Kakayonsabar darana,/-Teteras sekar cendana. Sahadat Adam Ashadu Sahadat Adam/Sah Adam/Ashadu nurputih aliptunggal/ Iman eling kamulya kangkadim,/ Lailahaileloh Muhammad Rasululah. Sahadat Barjah Ashadu sahadat barjah,/Enggon Allah sapatemon,/Sang Mutiara Putih calik di iman,/Patala artu miski aja ningratullah,/Titpan ge- dong kencana,/Nama Allah Rasulullah,/Lailaha ilaloh. Sahadat Hayun Asahadu sahadat hayun,/Hayun- hayun hurip kang hurip,/Cicipta Gusti Kang waras,/Cicipta Allah cipta rosa kang kawasa,/Ceg badan wujuding Allah Rasulullah/ Nanya badan, ceg badan wujudingmanusa. Sahadat Siluman Heuah balung nangtung tulang/ Tulang muntang. Colok rasa ku buana/Deg kimili rasa/Aingnyaho ratu sia/Anak sia ratu Siti,/Ambu sia ratu neluh ti Galunggung,/ Bapa sia pangulu jin. Sahadat Mustaka rayunan Asahadu mustaka rayunan/ Sahadat permana tunggal,/ Selamlahir, selam bathin,/Selam pinarengin kersa,/Sing waspada kanu ngayuga bumi alam/Aya nusaurang, aya nu sorangan,/ Aingwaspada kepada Allah,/Allah waspada ka kaula./Tenget gemereng-ereng,/Raraga gemetruhiat,/Terusning Allah terusning rasa/Pani-pani langgengtetep,/Langgeng agama Islam. Sahadat Ganda Ashadu ganda ingsun,/Turun saking sawarega,/Ningal ganda ningsunan sampurna,/Ganda ningsunan handiri,/Kamar langit karaton. Cag heula, mangga urang korehan deui ***

                                     

3. Sumber Rujukan

  • SASTRA LAGU: Mencari Larak dan Lirik, Wahyu Wibasana, Dalam Lima Abad Sastra Sunda, Geger Sunten, 2000.
  • Saatnya Baduy Bicara: Asep Kurnia, dkk 2010.
Free and no ads
no need to download or install

Pino - logical board game which is based on tactics and strategy. In general this is a remix of chess, checkers and corners. The game develops imagination, concentration, teaches how to solve tasks, plan their own actions and of course to think logically. It does not matter how much pieces you have, the main thing is how they are placement!

online intellectual game →